Page Ranking Tool
if you want to chat with me
Rabu, 11 November 2009
Hypodermic Needle Theory
Sejarah dan latar belakang
Suatu konsep penting untuk memahami cara kerja komunikasi massa dengan konsep “penjaga gawang” (gatekeeper). Seorang gatekeeper adalah orang yang memilih, mengubah, dan menolak pesan dan dapat mempengaruhi aliran informasi kepada seseorang ataupun sekelompok. Konsep ini sangat relevan untuk komunikasi massa.
Media massa memiliki kemampuan dalam mempengaruhi perilaku dan sifat seseorang. Pada jaman perang, penguasa menjadikan media massa sebagai alat propaganda untuk menakuti musuh dan menciptakan loyalitas kepada rakyat untuk mendukung kebijakan penguasa tersebut. Model komunikasi massa yang berlaku pada saat itu adalah model linear, yaitu komunikator menyebarluaskan pesan melalui media massa, yang ditujukan pada khalayak.
Pada sisi lain masyarakat membutuhkan informasi dari media massa, termasuk juga informasi komersial. Terjadilah lingkaran simbiosis mutualisma. Pada fase ini, media massa bukan lagi barang langka. Dengan begitu masyarakat sebagai khalayak bisa dengan mudah menenttukan pilihan darimana sumber sebuah informasi yang di butuhkan.
Setiap terjadinya perkembangan media selalu melahirkan konsep atau theory baru dalam ilmu komunikasi. Kemampuan media dalam menghubungkan individu komunikasi dijadikan acuan dalam membentuk suatu teori dan konsep baru dalam ilmu komunikasi. “Dalam membangun theory melalui komunikasi bermedia, tidak saja menghasilkan dan berupa statement-statement saja melainkan juga menggunakan model-model. Meskipun model-model tersebut tidak menguraikan deskripsi, prediksi dan eksplanasi tujuan area fokus pengamatan, tetapi sebuah model menyediakan hubungan antara komponen dalam proses komunikasi dan menerangkan bagaimana komponen tersebut beroperasi” (Mulyana, 2005, 208).
Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen danmudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang.
Teori peluru ini merupakan konsep awal sebagai effek komunikasi massa yang oleh para teoritis komunikasi tahun 1970 an dinamakan pula hypodermic needle theory yang dapat diterjemahkan sebagai teori jarum hipodermik. Teori ini ditampilkan pada tahun 1950 an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion From Mars”. Wilbur Schramm pada tahun 1950 an itu mengatakan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya. Tetapi pada tahun 1970 an Scrhamm meminta pada khalayak peminatnya agar teori peluru komunikasi itu tidak ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif.
Model magig bullet theory atau teori jarum suntik. Asumsi dari teori ini tidak jauh berbeda dengan model SOR, yakni bahwa media secara langsung dan cepat memiliki efek yang kuat tehadap komunikan.
Gambar : Model jarum hipodermik
Sumber : http//jurnalkomunikasi.com
INTI TEORI JARUM SUNTIK
Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Dan ini merupakan teori media massa pertama yang ada. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari audience.
Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic needle ( teori jarum suntik ), Bullet Theory ( teori peluru ) transmition belt theory ( teori sabuk transmisi ). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat kita tarik satu makna , yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.
Dari beberapa sumber teori ini bermakna :
# Memprediksikan dampak pesan pesan komunikasi massa yang kuat dan kurang lebih universal pada semua audience ( Severin, Werner J.2005: 314
.
# Disini dapat dimaknai bahwa peran media massa di waktunya ( sekitar tahun 1930an ) sangat kuat sehingga audience benar mengikuti apa yang ada dalam media massa.
Selain itu teori ini juga di maknai dalam teori peluru karena apa yang di sampaikan oleh media langsung sampai terhadap audience. ( Nurudin . 2007 : 165 )
.
# Kekuatan media yang begitu dahsyat hingga bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif dan tak berdaya. ( http//jurnalkomunikasi.com )
.
Dari sini kita ketahui bahwa teori peluru adalah :
Sebuah teori media yang memiliki dampak yang kuat terhadap audiencenya sehingga tak jarang menimbulkan sebuah budaya baru dan penyaampaiannya secara langsung dari komunikator yakni media kepada komunikan ( audience ).
beberapa hal yang juga ada dan menjadi bagian yang sangat penting ada dalam teori ini antara lain :
# Media : dalam hal ini berperan sebagai komunikator, dan komunikator di sini sifatnya adalah melembaga dan bukan perorangan
.
# Pesan : disni pesan adalah isi atau hal yang disampakan oleh media tersebut
.
# Audience : audience berfungsi sebagai komunikan yang menerima pesan dari komunikator
.
Komunikator yakni media juga memiliki kriteria yang ada :
# kredibilitas media tersebut
.
# daya tarik dari media tersebut
.
# kekuasaan media
.
Pesan yang di sampaikaan juga memiliki beberapa unsur :
# struktur pesan tersebut
.
# gaya dari pesan tersebut
.
# appeals dari pesan tersebut.
.
Dan selain itu sebagai komunikan, ada beberapa perubahan atau efek yang di harapkan diantaranya :
# perubahan afeksi dari komunikan
,
# perubahan behaviour dan
.
# perubahan kognisi
Jadi disini media benar mempunyai kekuatan yang sangat kuat untuk mempengaruhi audience.
TERAPAN TEORI TERHADAP MASYARAKAT
Masyarakat bukanlah atom- atom yang mengalami alienasi, melainkan agen-agen yang akan menunjukkan kemampuan subyektivitasnya dalam menanggapi pesan-pesan media. Masyarakat merupakan pihak yang dapat bertindak aktif untuk membaca dan memaknai setiap pesan media yang melintas dan menghunjam benak kesadarannya. Masyarakat mampu menunjukkan kelihaiannya dalam menegosiasikan pesan-pesan media. Sampai pada titik yang sulit diramalkan kepastiannya, masyarakat pun akan melakukan oposisi atau perlawanan terhadap pesan-pesan media itu sendiri. Selain dipertimbangkan, pesan-pesan media akan mendapatkan subversi tanpa henti.
Contoh yang akan kita bahas dalam makalah ini adalah, pada iklan air mineral yang bermerek Aqua. Dimana pada saat produk air mineral ini dipublikasikan, secara langsung bisa mempengaruhi asumsi khalayak bahwasanya air mineral itu adalah aqua. Sehingga sampai saat ini aqua sudah terdoktrin di ingatan khalayak. Walaupun sudah banyak merek-merek air mineral yang bermunculan.
Kelemahan dan kekuatan theory hypodermic needle theory
Pada dasarnya setiap theory memmpunyai kekuatan dan juga kelemahan. Dan tentunya beberapa teori tersebut hanya bisa berkembang di masanya dan juga mengalami penyempurnaan seperti teori ini yang juga terus mengalami perkembangan.
Kekuatan teori jarum suntik :
# media memiliki peranan yang kuat dan dapat mempengaruhi aveksi, kognisi dan behaviour dari audiencenya.
.
# Pemerintah dalam hal ini penguasa dapat memanfaatkan media untuk kepentingan birokrasi ( negara otoriter )
.
# Audience dapat lebih mudah di pengaruhi
.
# Pesanya lebih mudah dipahami
.
Sedikit kontrol karena masyarakat masih dalam kondisi homogen.
Kelemahan teori jarum suntik :
# keberadaan masyarakat yang tak lagi homogen dapat mengikis teori ini
tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat
.
# Meningkatnya jumlah media massa sehingga masyarakat menentukan pilihan yang menarik bagi dirinya
.
# Adanya peran kelompok yang juga menjadi dasar audience untuk menerima pesan dari media tersebut
.
KESIMPULAN
Salah satu teori komunikasi massa dalam media adalah hypodermic theory atau biasa yang disebut dengan teori jarum suntik. Artinya media massa sangat mempunyai kekuatan penuh dalam menyampaikan informasi. Apa pun pesan yang disiarkan oleh media bisa dengan sendirinya dapat mempengaruhi khalayaknya. Teori ini menyatakan bahwa efek-efek merupakan reaksi spesifik terhadap stimuli yang spesifik pula. Jika seseorang menerapkan teori ini dapat mengharapkan dan memprediksikan hubungan yang dekat antara pesan media dan reaksi khalayak.
Untuk mengkaji pengaruh pesan pada khalayak, diperlukan lebih banyak fariabel, antara lain jenis informasi yang diikuti dari media, frekuensi dan intensitas mengikuti informasi tersebut, dan juga variabel-variabel internal kahalayak sendiri seperti, tingkat pendidikan dan wawasan, jenis kelamin, tingkat usia, dan kelompok sosial lainnya.
Teori ini, sebagaimana diuraikan Denis McQuail dan Sven Windahl (dalam Communication Models: For the Study of Mass Communications, 1981: 42) mengandaikan keterlibatan tiga elemen, yakni (1) stimulus atau rangsangan dalam wujud pesan- pesan atau informasi; (2) organisme yang tidak lain merupakan khalayak yang berkedudukan sebagai penerima pesan; dan (3) respons yang merupakan efek yang dipastikan muncul sebagaimana yang dikehendaki oleh pemberi pesan.
Ringkasnya adalah khalayak yang diberlakukan layaknya organisme biologis akan menyajikan tanggapan yang pasti sesuai dengan rangsangan yang disemburkan oleh sumber yang memberikan informasi. Jalinan stimulus- organisme-respons (S-O-R) pun dengan sendirinya akan tertata dengan rapi.
Oleh;
Widia Astutik ( 05220194 )
Gagah Adi .N. ( 06220123 )
Vita Setya .C. ( 06220224 )
Prahatma Dyan Nugroho ( 06220252 )
Bayu Kristianto ( 06220265 )
Yanuar Catur .P. ( 06220286 )
Annisa Nahdya Safitri ( 06220324 )
DAFTAR PUSTAKA
Bland Michael, dkk. 2001. Hubungan Media Yang Efektif. Jakarta : ERLANGGA
J. Severin dan Tankard. 2008. Teori Komunikasi. Jakarta : Kencana: Media
Pressindo.
Mulyana Deddy. 2005. Konteks –Konteks Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Rajawali Pers.
_______ . 2004. Komunikasi Massa. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Lanjut Membaca......
Diposkan oleh yanuar catur rastafara di 16:23 12 komentar
halah tugas kuliah
Kamis, 05 November 2009
Kucing Uts Putus
Wadeaw, beberapa minggu terakhir ini kok media massa kita semakin heboh yah, apalagi kalau bukan berita terkait dengan KPK..kalau dulu sich versi cicak dan buaya, tapi kalau sekarang aku nggak tahu lagi istilah apa yang di pakai. Kucing-kucingan mungkin yah..hehehhe. Yang ngaku kucing, jangan tersinggung yah, maap dech
Nah, pas tanggal 5 pagi ini, berita di tv, koran, portal dan apalah namanya, masih mengangkat headline seputar rekaman yang diputar pada sidang tanggal 3 kemaren. Sekarang, tadi ding, si Anggodo (saksi pelapor) maen kucing-kucingan sama wartawan (kabar terkini tv one). Anggodo ini keluar dari mabes lewat pintu belakang kantor itu. Dia kabur dengan mobil, kenceng pula, jadi nggak mungkin terkejar sama rekan-reekan wartawan disana.
Memang sich, Anggodo masih belum menyandang status lagi selain sebagai saksi pelapor. Pas tim kuasa hukumnya yang berhasil dicegat wartawan, keliatannya sich dia gimana gitu, agak kurang sreg ngeliatnya. Jadi satu yang saya telat percaya, pengacara selalu membela kliennya, benar atau salah, mungkin...
Nggak tau lah, biarin orang-orang disana pada repot ngurus itu. Aku ingin kuliah aja dah, biar cepet selesai. Sekarang aja tugasku udah numpuk nggak kebayang. Pusing mikir tugas ini itu, sempeti ngeblog and nulis. Tapi aku juga nggak tahu apa yah yang aku tulis ini.hehehehe. Oiya, doain aku ya bentar lagi UTS. Moga-moga aja ujianku lancar.. amien..
Eits, ada yang kelupaan lagi nih. Tapi nggak ngerti harus di mulai dari mana ceritanya. Ijo barusan putus dengan pacar barunya. Aduh, aku mestinya seneng ato sedih yah??
Tau ach,,pusing.. hehehee.. pak dokter, minta obat donk??
kok aq gag jelas bgt!! emank nape!!!
Numpang Narsis dikit yah..hohohohoho
Lanjut Membaca......
Diposkan oleh yanuar catur rastafara di 00:51 48 komentar
halah rehat
Minggu, 01 November 2009
Susahnya Mencari Keikhlasan
Aneh, kok blog ku akhir-akhir ini berubah jadi semacam curhat gitu yah? berhubung suasana masih mendung, ada yang ingin aku ceritain lagi nih. Mungkin kalian juga makin bosen jika berkunjung ke blog rastafara island ini, tapi ya mau gimana lagi. Saat ini ya cuma itu yang ingin aku tulis, masih belum kepikiran nulis apalagi...
Semenjak kejadian itu, aku belum pernah lagi menulis. Nulis sekedar update status diberbagai rumah sosialku pun tidak. Bukan tidak sich sebenarnya, tapi jarang. Entah kenapa, seolah-olah aku kehilangan semangat dan nyawa dalam menulis. Mungkin inilah efek domino dari penyakit yang paling ditakuti oleh setiap manusia, PATAH HATI.
Malam itu, aku mengungkapkan semua segala perasaan yang ada kepada ijo, walaupun sedari awal aku sudah tahu kenyataannya bahwa tak mungkin aku mendapat balasan perasaan yang sama. Tapi karena aku belum mengucapkan secara langsung kepadanya, maka aku berpikir, alangkah baiknya jika aku mengucapkan dan didengar langsung olehnya, biar hati ini bisa sedikit lega. Dari postinganku sebelumnya, tanda bendera putih telah aku kibarkan untuk mengejar ijo. Signal pengibaran bendera putih tersebut memang sudah diberikan dari pihak ijo, bahwa dia telah memiliki “sesuatu yang baru”. Tapi entah mengapa, aku belum lega jika tidak mengungkapkan isi hatiku secara langsung. Malam itupun terlaksana seperti rencana. Dengan terbata-bata dan sedikit meringis sedih, akhirnya aku dapat mengungkapkan sepenuh isi hatiku padanya, ijo. Saat itu, aku mendapat pertanyaan darinya, “terus mau kamu gimana tur?”. Dengan berusaha tersenyum aku pun menjawab, “ya mungkin seperti ini lebih baik kok, lagipula aku nggak berhak mendapatkan jawaban yang nanti ujung-ujungnya muncul kata terpaksa”. Aku tak boleh egois menghadapinya, dan saat ini yang bisa aku lakukan hanya memberi, ingin meminta rasanya tak berhak. Sesudahnya, semua berjalan masih seperti biasa pada awalnya, bersama teman-teman aku dapat dengan sedikit melewati perasaan yang kalau dirasakan sebetulnya amat pedih, sangat. Tapi jika aku dihadapkan pada kesendirian, kalian bisa tebak kan apa yang terjadi. Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi aku juga nggak bisa mengeluarkan air mata sepenuhnya, apakah itu hal yang memang jadi ciriku, ataukah sesuatu yang musti aku munafikan, aku juga nggak tahu. Dan baru kali ini aku merasa sadar, bahwa sebenarnya hati ini belum lega dan ikhlas menerima kenyataan.
Dengan mendadak, aku memutuskan untuk mencari sebuah arti kata ikhlas di kota yang amat aku sukai, Yogya. Modal yang aku bawa pas-pasan, yang penting cukup untuk transportasi kesana. Didalam perjalanan, dalam kereta, aku masih saja kebawa arus pikiran dan hati yang mellow, sesudah itu sedikitpun aku tak bisa lepas bayangan ijo yang muncul setiap saat dari kejauhan pikiran. Dibalik keramaian Jogja yang aku harapkan, bayangan pikiran itu sedikit demi sedikit luntur, walaupun hanya sementara, tapi tetap saja hadir meski tanpa undangan. Lari ke pantai, aku berusaha mengungkapkan apa saja yang berdesakkan ingin keluar dari dalam hati. Dengan berteriak sekeras-kerasnya, sedikit kuluangkan rongga-rongga hati ini. Aku juga ingin menangis disini, tapi tetap saja tak ada airmata yang ingin keluar, semua berdiam dan berkumpul di pojokan pelupuk mata. Hanya sembab saja yang muncul.
Sudah tiga hari aku berada disini, jogya, tapi tetap saja nggak bisa menghabiskan sisa-sisa bayangan yang terus saja membuntuti pikiran serta hatiku. Sia-sia pikirku jika berlama-lama disini andai bayangan itu tetap ada. Satu kata yang tepat saat itu, Pulang. Kenangan yang kudapat di Jogja hanya satu, masih sulitnya mencari celah titik temu sebuah makna keikhlasan.
Semua berjalan kembali, kegiatan akademis kembali aku lakoni seperti biasa. Ceria, tawa, diam, kadang ngakak tak karuan. Tapi ada yang tersikasa dibalik keceriaan semua itu. Hati ini rasanya masih terkunci rapat, senyum hatipun tak dapat. Apalagi, dalam kegiatan yang wajib aku lakukan selama 4 tahun ini, aku selalu ketemu dengan dia, sosok nyata bayangan yang telah mengikutiku. Sejak kejadian malam itu, aku berusaha bersikap wajar seperti biasa padanya. Mendekat tak mungkin, menjauhpun aku tak mau. Dari kejauhan imajinasi otakku, muncul suatu pernyataan bernada harapan, “andaikan aku dapat menerima kenyataan ini, ijinkanlah aku meraih arti ikhlas itu, singkirkan pikiran egoisku dan berikan aku sebuah kesadaran bahwa ternyata aku telah DI TOLAK”!.
Lanjut Membaca......
Diposkan oleh yanuar catur rastafara di 10:53 56 komentar
halah Ijo
Selasa, 13 Oktober 2009
I Wanted To Cry But The Tears Wouldn’t Come
“katakanlah sebelum kau menyesalinya”.. kata-kata itu sungguh mengena padaku sekarang. Memang benar sekali setiap kata tersebut, jangan sampai kalian merasakan hal itu, sungguh menyakitkan. Entah kenapa aku sampai sejauh ini merasakannya, mungkin karena tak lain adalah sosok “IJO”.
Seperti yang telah aku ceritakan berkali-kali di blogku, “IJO” adalah seorang perempuan (tentunya) yang selama kurang lebih tiga tahun ini sangat aku kagumi dan akhirnya sampai jatuh cinta padanya. Dan akhir-akhir ini, kurang lebih sudah 3 bulanan, aku mulai dekat dengan “IJO”. Awalnya sich aku agak kagok, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa menghadapi situasi jika sedang ada atau bersama dengannya. Makan bareng, pulang kuliah bareng, nongkrong bareng, meskipun tensinya masih sedikit tapi tetep berjalan.
Di tengah jalan pedekate ku ini, aku sempat menghadapi tekanan mental yang cukup kuat, soal materi tentunya. Pertama yang kulihat adalah mantan kekasihnya dulu yang jauh lebih “tinggi” dari keadaanku sekarang. Dia (mantannya) lebih cakep, lebih kaya, dan “mungkin” lebih pintar (mungkin, karena kami berdua belum pernah debat kali ya, hehehehe). Apakah dia sebanding dengan aku yang lebih “rendah”, lebih “jelek”, lebih “miskin” ? dan nggak tahulah lebih apalagi. Seiring jalannya detik, menit, jam, hari, dan minggu (belum sampai ke bulan karena lapisan ozon makin tipis,nggak nyambung yah?hehehehe) aku berpikir sedkit lebih positive alias tetep PeDe dengan keadaanku yang ada untuk mendekati ijo. Lama-kelamaan perasaan minderku ini luntur dengan sendiri. Mungkin karena aku percaya, kalau cowok yang “sesempurna” itu belum tentu sempurna untuk “IJO”. Dan dengan “IJO” sendiri, aku percaya kalau dia orang yang bukan memandang seseorang dari segi materi saja.
Setelah perasaan minder tadi agak sedikit luntur, aku kembali berusaha menerobos masuk pintu hati “IJO” dengan segala cara yang aku tahu. Memang sich cara yang aku lakukan cukup sederhana, sangat sederhana bahkan, hanya lewat sms dan telpon (itupun aku musti ngutang pulsa di konter kawan). Acara “ngapel” ke kosnya saja masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Dan asal kalian tahu saja, sampai sejauh aku deket dengannya, sampai detik terakhir aku nulis ini juga aku masih belum sempat mengutarakan isi hatiku. Entah ketololan macam apa pula yang menggantung dan mengikat lidah merahku ini. Kadang-kadang, perasaan minder itu muncul kembali dalam semak-semak benak. Itu mungkin, dan kadang-kadang pasti.
Seperti biasa, kontrakku dengan “IJO” untuk hari selasa sejatinya masih berlaku, yaitu jemput dia sekalian berangkat bareng ke kampus karena kebetulan jadwal kita berdua ada yang sama. Nah, sebelum hari selasa datang (hari aku posting ini), senin malam aku berencana datang ke kosnya secara diem-diem alias surprise gitu. Sekalian malam itu adalah niatku mengutarakan desakkan dari hati ini. Kali ini jujur aku mau mengungkapkannya, sudah nggak kuat sampe terasa penuh dada ini. Sebelum datang ke kosnya, aku membeli sesuatu sebagai tanda ungkapan kalau aku cinta sama “IJO” ku ini. Emank sich bukan dari barang yang wuah atau mahal, tapi menurutku sich kayaknya oke juga buat aku bawa. Kadonya apaan sich? Nanti dulu donkk...nyerobot aja..hahahha. Senin malam datang, aku segera bersiap menuju kos “IJO” dan tak lupa membawa kado untuknya yang udah aku siapin. Baq’da isya’ (kayak kondangan) aku berangkat. Tumben lho bauku harum kayak gini,hahahaha. Kupacu motorku (pinjeman lagi, motor kakakku korbannya), selip kiri-selip kanan, persis valentino rossi dah gayaku. Sambil cengar-cengir di jalan membayangkan suatu harapan. 10 menit aku nyampe di depan kosnya. Langsung aku pencet keypad hape jadulku, kali ini nelpon nggak pake acara utang pulsa, malu donk. Berkali-kali nada dering di speaker hapeku hanya terdengar “tut...tut..tut..” dering telp kalau nggak diangkat-angkat. Akupun sms, “Jo, aku dah di depan kos kamu.” Tahu kan jawabannya?!
“sorry, aku lagi keluar” gitu lah balasannya. Apes bener aku ini. Mau gimana lagi donk. Karena ijo sedang keluar, aku berniat kabur dari kosnya menuju gang sebelah kosnya, seumpama kalau nanti dia nyampe, bau-bau surprise masih ada. Sambil nuggu, aku juga smsan ma “IJO”. Ba..bi..bu..ngomongin (nulis, cuz sms) di hape, iseng aku tanyain kontrakku buat selasa besok masih ada apa nggak.
Aku : “Jo, besok kontrakku masih ada?”
IJO : “sorry tur, kalau besok nggak gmn?”
Aku : “please jo. Aku mohon”
IJO : “nggak usah gih, kita ketemu langsung dikampus aja ya?”
Aku : “ada yang marah ya Jo?”
IJO : “jujur, iya”
Aku : “kenapa nggak bilang dari dulu?”
IJO : “kan masih baru”
Dier...kayaknya malam ini ujan turun lebat diselingi kilatan petir menyerang ubun-ubunku (hanya imajinasi, kalau petir udah di ubun2 mana mungkin aku bisa posting sekarang).
Aku : “ya udah Jo, aku nyerah aja wes”
IJO : “maap, kita temenan aja ya”
(tapi kan aku belum sempat nembak kamu Jo)
Aku : “oke”, (ini adalah pernyataan paling muna yang aku lontarkan)
Langsung saja setelah aku tutup acara smsan ini, aku buka jaket ku lalu kuambil 12 tangkai mawar putih dengan 12 dauunnya, langsung kuinjek-injek dan kulempar ke got. Aku juga nggak nyangka kalau refleks ku kayak gitu. Dengan kepala tegak (pura-pura), aku meninggalkan mawar tadi yang kalau di itung mungkin bisa menjadi 1000 tangkai, lalu ngebut meninggalkan areal kos “ijo”. Aku menuju rumah temen yang kebetulan nggak terlalu jauh dari kos “ijo”. Disini aku curhat, sambil ngopi (mumpung dikasih gratis). Eh, ujung-ujungnya temenku tadi malah bilang gini “salah kamu sendiri tur, kelamaan”. Aduh!!!!! Aku kok salah lagi ya? Tapi kalau dipikir-pikir mungkin bener juga kata temenku tadi. Ya udahlah, mau gimana lagi. tapi seumpama “IJO” masih memberiku celah, aku pasti akan berusaha masuk. Yang aku tak heran, kenapa aku dari awal dikasih sedikit pintu yang terbuka?
Ehm, kenapa yah?? Jujur, aku masih bego’ memang kalau masalah amor-amoran kayak gini. Wah, kayaknya mulai sekarang aku berubah status menjadi orang yang paling munafik nih, dengan slogan “kontrak tiada, muka’ tetep ketawa, otak rada gila”.. Pusing, di kos sambil ngetik ini tulisan, aku hanya mendengarkan dan menyanyikan lagu scorpions yang judulnya kalau gag salah sich gini “I Wanted To Cry But The Tears Wouldnt Come”
*kisah nyata dari pecinta yang BBB, Bener Bener Bego*
Lanjut Membaca......
Diposkan oleh yanuar catur rastafara di 04:36 73 komentar
halah Ijo
Posting Lama
Langgan: Entri (Atom)
Cuap-Cuap
o oo..itu tugas kuliah ya yan?? tapi bagus bgt kok,...
o Ada yg baru nih.....seger liat ijo... bener masyar...
o bikin makalah tah yannnnn??? hahahha eh aku baca i...
o hypodermic theory, aku baru tau tentang teori ini....
o Pertama-tama selamat untuk baju barunya. Mohon maa...
free counters
Kamis, 12 November 2009
rastafara
Diposting oleh eka rock di 18.50
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar